Posted on

Kekuatan Sedekah

Kenapa orang yg mati memilih shodaqoh jika kembali ke dunia? sebagaimana firman Allah:

( ﺭﺏ ﻟﻮﻻ ﺃﺧﺮﺗﻨﻲ إلى أﺟﻞ ﻗﺮﻳﺐ ﻓﺄﺻﺪّﻕ ) ؟ ،
ya Rabbku jika Engkau menundaku sampai waktu yg dekat, maka aku akan bersedekah
ولم يقل : لأعتمر .. أو لاُصلي ..
أو لأصوم ؟
Tidak mengatakan, aku akan umroh, akan sholat atau akan puasa
قال أهل العلم :
ﻣﺎ ﺫﻛﺮالميت ﺍﻟﺼﺪﻗﺔ إلا ﻟﻌﻈﻴﻢ ﻣﺎ ﺭﺃﻯ ﻣﻦ أثرها بعد موته ..
Ahli ilmu mengatakan:
Sedekah yg disebutkan mayit tidak lain karena besarnya pengaruh yg ditinggalkannya setelah kematiannya.
فأكثروا من الصدقة فإن المؤمن يوم القيامة في ظل صدقته ..
Maka banyaklah bersedekah, sesungguhnya pada hari kiamat orang beriman berada di bawah naungan sedekahnya
وتصدقوا عن موتاكم فإن موتاكم يتمنون الرجوع للدنيا ليتصدقوا ويعملوا صالحاً ، فحققوا لهم أمنيتهم ، وعودوا أبناءكم على ذلك .. تصدقوا
Dan bersedekah lah untuk kematianmu, karena kematianmu mengharapkan kembali ke dunia untuk sedekah dan amal sholeh

وأفضل صدقة تفعلها الان هي :
نشر هذا الكلام بنية الصدقة ؛
Dan sebaik-baik sedekah yg bisa anda lakukan sekarang adalah: menyebarkan kalam ini dengan niat sedekah.
Sumber : Catatan FB.com/ Ahmad Fauzi

Please follow and like us:
Posted on

Khutbah Wada’ Nabi Muhammad Saw

Prinsip Pertma : Ma’rifatullâh, dg Pengakuan Kedaulatan Allah Swt.
Pengakuan Kedaulatan Allah disinilah terletak “ Ma’rifatullâh “ yang mencakup :
1 : Hamdalah.
Didalam al-Qur ân ada lima surah yang dimulai dengan “hamdalah”:
1.Al-Fâtihah [1]: 2.
Kedaulatan itu milik mutlak Allah, Tuhan semesta alam .
2.Al-An’âm [6] : 1 :
Kedaulatan itu milik Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan mengadakan gelap dan terang, Namun orang-orang yang kafir mempersekutukan sesuatu dengan Tuhan mereka.
3.Surah al-Kahfi [18] : 1 :
Kedaulatan itu milik Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya al-Qur ân dan Dia tidak mengadakan kebengkokan [ ] di dalamnya.
4.Surah Sabâ [34] : 1 ;
Kedaulatan itu milik Allah yang memiliki apa yang di langit dan apa yang di bumi dan bagi-Nya pula segala puji di akhirat. dan Dia-lah yang Maha Bijaksana lagi Maha mengetahui.
5.Surah Fâthir [35] : 1 :
Kedaulatan itu milik Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan Malaikat sebagai utusan-utusan untuk mengurus berbagai macam urusan yang mempunyai sayap, masing-masing ada yang dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
6. Surah al-Taghâbun [64] : 1 :
Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi ; hanya Allah lah yang mempunyai semua kerajaan dan semua pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
2.Isti’ânah.
Didalam Islam, isti’ânah itu ada beberapa istilah yang masing masing memiliki perbedaan dan konotasinya yaitu :
a.Isti’ânah = اَلْإِسْتِعَانَةُ yaitu permohonan pertolongan.
b. Istighâtsah = اَلْإِسْتِغَاثَةُ yaitu permohonan rahmat dan kemenangan.
Istighâtsah berasal dari kata “ghâtsa” – “yaghîtsu: – “ghaitsan” , yang berarti “hujan “ seperti ungkapan didalam al-Qur ân surah Yusuf [12] : 49 :
1. Surah Luqmân [31] : 34 .
2. Surah al-Hadîd [57] : 20.
3. Surah al-Anfâl [8] : 9 .
4. Surah al-Kahfi [18] : 29 .
Walaupun ayat ini gambaran orang-orang kafir dineraka yang meminta air minum yang kemudian diberi oleh Allah air minum besi yang membara tetapi ditinjau dari aspek bahasa, “istighâtsah” digunakan oleh Allah Swt didalam al-Qur ân yang berarti permohonan air minum dalam konteks ini, tetapi dilihat dari sinonim serta penggunaan Nabi tentang istighâtsah ini, maka istighâtsah ialah salah satu bentuk doa dalam Islam dizaman Rasulullah Saww dalam hadis yang popular
اَلدُّعَاءُ مُخُّ الْعِبَادَةِ.
Doa itu otaknya ibadah.
Kalau kita telusuri seluruh kata istighâtsah didalam al-Qur ân dan Hadis Nabi, maka kita akan menemukan makna yang berbeda-beda sesuai dengan kontek ayat dan hadis itu meliputi :
1.Permohonan agar diberi hujan.
2.Permohonan agar diberi air.
3.Permohonan agar diberi cahaya.
4.Permohonan agar diberi rahmat.
5.Permohonan agar diberi pertolongan.
6.Permohonan agar diberi rezeki.
7.Permohonan agar diberi kemenangan.
8.Sinonim / murâdif dengan doa permohyonan atau isti’ânah.
9.Sinonim / murâdif dengan doa isti’âdzah .
Istilah istighâtsah sudah digunakan oleh Nabi-Nabi sebelum Muhammad Saww .
Demikian juga wazir Nabi Sulaiman ‘a.s. Âshaf atau Âshif bin Bakhroya yaitu :
يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ.
“Ya Allah Yang Maha Hidup dan Berdiri Sendiri, melalui Rahmat-Mu aku mohon kemenangan”
3.Istighfâr.
Qs.Hûd [11] : 3 yang artinya :
Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya. Jika kamu mengerjakan yang demikian, niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik terus menerus kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai balasan keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.
a.Istighfâr terendah : اَسْتَغْفِرُاللهَ رَبِّ اغْفِرْلِيْ –
Rabbighfirliy……. atau astaghfirullâh…..
b.Istighfâr lebih tinggi : اَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ
“Aku mohon ampun kepada Allah yang Maha Agung”
c.Istighfâr diatasnya : اَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ وَاَتُوْبُ اِلَيْهِ
“Aku mohon ampun kepada Allah yang Maha Agung dan aku betobat kepada-Nya.”
d.Istighfâr diatasnya lagi :
اَسْتَغْفِرُاللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِىْ لاَ اِلهَ اِلاّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَاَتُوْبُ
اِلَيْهِ.
“Aku mohon ampun kepada Allah yang Maha Agung yang tidak ada Tuhan yang wajib disembah kecuali Dia yang Maha Hidup lagi Berdiri Sendiri, dan aku bertobat kepada-Nya”.
e.Sayyid al-Istighfâr :
اَللّهُمَّ اَنْتَ رَبِّيْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَاَنَا عَبْدُكَ، وَاَنَا عَلى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ ، اَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْلِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ اَنْتَ.
f. اِسْتِغْفَارُ نَبَوِيٌّ جَاِمعٌ .
Istighfar Seluruh Nabi-nabi:

اَللّهُمَّ مَغْفِرَتُكَ أَوْسَعُ مِنْ ذُنُوْبِيْ وَرَحْمَتُكَ أَرْجَى عِنْدِيْ مِنْ عَمَلِيْ.
“Ya Allah, ampunan-Mu lebih lapang dibandingkan dosa-dosaku, sedang rahmat-Mu aku harapkan dilimpahkan kepadaku dalam setiap amalku.”- Hr.Hakim dari Jabir bin ‘Abdillah.
g.Tertinggi ialah istighfâr-istigfâr didlm al-Qur ân contohnya srh al-Hasyar [59] : 10 :
h.Doa-doa Nabi dalam al-Qur ân lihat buku kami” :
“Al-Adzkâr “hal.129-164, atau buku kami “Doa-Doa al-Qur ân doa-doa iastighfâr para Nabi
i. Disamping aneka istighfâr diatas, kita juga menemukan aneka istighfâr yang disusun oleh ulama-ulama salaf al-shâlih yang sangat indah dan sangat bagus sekali untuk lebih taqarrub kepada Allah Swt. Silahkan baca kitab Abwâb al-Faraj halaman 198-219.
4- Al-Inâbah / al-Taubah (Tobat).
a- Inabâh menurut Bahasa.
Kata anâba – اَنَابَ didalam al-Qur ân kita temukan 18 kali. Mujarradnya (aslinya) ialah : يَنُوْبُ- نَوْبًا نَابَ – وَنِيَابًا- وَمَنَابًا. yang artinya : menggantikan tempatnya-mewakili – berulang kembali – kembali kepada Allah, sinonimnya : تَابَ- يَتُوْبُ- تَوْبَةً yang berarti bertobat. Al-Qur ân semuanya menggunakan kata mazid (tambahan) satu huruf yaitu : – يُنِيْبُ- اِنَابَةً – اَنَابَ: yang berarti berulang kembali – mewakilkan – bergantian.
Istilah khusus didalam al-Qur ân ialah : اَنَابَ إِلى اللهِ : تَابَ إِلى اللهِ , yang berarti kembali kepada Allah. Perbedaannya, didalam kata anâba, ada unsur mewakilkan atau tawakkal, dan unsur bergantian atau bergiliran kembalinya kepada Allah, berdasarkan peningkatan ilmu, setelah mengetahui terus kembali kepada Allah, dan terus kembali kepada Allah mengikuti peningkatan ilmu yang dipelajarinya. Imam ‘Ali bin Muhammad al-Sayyid al-Syarîf al-Jurjâny al-‘Allâmah didalam kitabnya al-Ta’rîfât mengungkapkan definisi inâbah sebagai berikut
اَلْإِنَابَةُ : إِخْرَاجُ الْقَلْبِ مِنْ ظُلُمَاتِ الشُّبُهَات- وَقِيْلَ اَلْإِنَابَةُ : اَلرُّجُوْعُ مِنَ الْكُلِّ إِلى مَنْ لَهُ الْكُلُّ – وَقِيْلَ اَلْإِنَابَةُ : اَلرُّجُوْعُ مِنَ الْغَفْلَةِ إِلى الذِّكْرِ, وَمِنَ الْوَحْشَةِ إِلى الْأٌنْسِ
Al-Inâbah ialah : Lepasnya hati dari kezaliman syubhat . Dan ada pendapat lain, kembali dari segala sesuatu ini kepada yang memiliki segala sesuatu (Allah). 3. Dan ada pendapat lain : Al-inâbah ialah kembali dari kelalaian kepada zikir, dan dari watak binatang liar kepada jiwa keramahan.
Firman Allah Swt surah al-Ra’du [13] : 27 yang artinya :
Orang-orang kafir berkata : “mengapa tidak diturunkan kepada Muhammad tanda mukjizat dari Tuhannya ?” Katakanlah : “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang kembali kepada-Nya”.
Perintah Inâbah (Kembali Kepada Allah)
Dalam surah al-Zumar [39] : 54 yang artinya:
”Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong lagi.”
Ayat ini adalah perintah inâbah (اَلْإِنَاَبُة), yaitu kembali kepada Allah serta bertawakkal kepada-Nya, dan perintah pasrah dan tunduk kepada Allah Swt. (اَلْإِسْلاَمُ), sebelum datangnya kematian. Fi’il amar (فِعْلُ الْأَمْرِ) didalam al-Qur ân, menunjukkan wajib dalam hukum Islam sebagaimana kaidah Ushûl al-Fiqhi :
“اَلْأَمْرُ لِلْوُجُوْبِ, إِلاَّ مَا دَلَّ الدَّ لِيْلُ عَلى خِلاَفِهِ “
“ Perintah menunjukkan wajib, kecuali ada dalil yang menentangnya “
Perintah al-Inâbah dan al-Islâm didalam ayat ini hukumnya wajib. Setiap Muslim wajib melaksanakan Inâbah sebagaimana para Nabi yang dicontohkan oleh Allah Swt. Di antaranya inabah-nya Nabi Sulaiman ‘a.s., demikian juga inabah-nya Nabi Ibrahim ‘a.s., yg nanti kita akan gambarkan bagaimana inabah-nya Sulaiman dan Ibrahim ‘a.s.
Prof.Wahbah al-Zuhaili dalam tafsirnya mengungkapkan :
“Kembalilah kalian kepada Allah dengan tobat dan taat kepada-Nya, dengan menjauhi segala macam bentuk kemaksiatan, serta tunduk dan pasrah dalam segala urusan agama-Nya. Disamping itu, tunduk dan taat kepada segala hukum-hukum-Nya sebelum datangnya azab dunia berupa kematian. Siapapun tidak akan mendapatkan pertolongan yang dapat mencegah dari azab kecuali Allah Swt setelah datangnya azab itu”.
Dalam surah Luqmân [31]:15 yang artinya :
“ Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku lah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
Surah lain, Shad [38] : 24 yang artinya :
Daud berkata : “Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini”. Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertobat.

Sumber :  H. Muchtar Adam >>> FACEbook.com/Muchtar.Adam

Please follow and like us:
Posted on

Keutamaan Silaturrahim Untuk Membangun Jaringan Persaudaraan

”Siapa yang ingin rezekinya diperluas & umurnya panjang maka hendaknya ia bersilaturrahim.” (HR. Bukhari).

 

Di atas adalah hadits Rasulullah SAW, manusia biasa ciptaan Allah yg bebas dr dosa & dijamin masuk syurga, diutus untuk sempurnakan akhlak manusia, suri tauladan terbaik sepanjang masa. Bagi yg muslim, sikap terbaik dr hadits tsb adlh menerima dgn lapang dada & penuh dgn suka cita, karena Rasulullah SAW memiliki sifat SIDDIQ (Benar), maka apa yg Rasulullah katakan pastilah itu selalu benar & bisa direalisasikan.

Inilah rahasia dahsyat dalam membangun jaringan dari Rasulullah Sang Maestro segala bidang.

No automatic alt text available.

SILATURRAHIM: Hubungan kasih sayang yang mengayakan, melimpahkan rezeki & kesehatan. Bagi kita yg ingin rezekinya dimudahkan, dilancarkan, maka bangunlah SILATURRAHIM dengan orang lain termasuk klien atau calon customer kita.

Ada 4 ciri Powerful Networking yang mengambil ruh dari Silaturrahim ini:

1. Spiritual.
Niatkan membangun networking sebagai ibadah agar dapat memberi jaminan akan hasil yang berkah.

2. Dari hati ke hati.
Bangun relasi degan tulus, libatkan emosional & hati, karena hati hanya bisa disentuh dengan hati.

3. Fokus Memberi Manfaat.
Silaturrahim bukan ttg “saya maunya apa”, bukan sekedar koleksi banyak kontak & kartu nama, tiba-tiba menghubungi kalau butuh saja. Tapi ini ttg “Apa maunya mereka”. Datangi mereka, tawarkan bantuan, beri yg mereka butuhkan, jika kita tdk punya, hubungkan dgn jaringan kita yagn lain yagn dpt penuhi kebutuhan mereka. Yakinlah suatu saat mereka akan lakukan hal yang sama utk kita.

4. Jaga Kualitas.
TRUST adalah kunci networking, jaga TRUST mereka dengan menjaga kualitas produk & layanan kita, juga menjaga kualitas hubungan kita.

“Barangsiapa yang meringankan beban seorang muslim yang kesulitan maka Allah akan ringankan bebannya di dunia & akhirat”. (H.R. Muslim).

Demikian sharingnya, semoga manfaat yaa

Mau training bisnis online, web dan SEO?

Yuk kita belajar bareng

Sumber :Ahmad Rifai pemilik Annahl-Webmedia.com dari FaceBook.com/rhifay

Please follow and like us:
Posted on

Bekerja Keras Bekerja Cerdas Bekerja Ikhlas

Motivasi Kerja Sejati

Untuk mengetahui motivasi kerja dalam Islam, kita perlu memahami terlebih dahulu fungsi dan kedudukan bekerja. Mencari nafkah dalam Islam adalah sebuah kewajiban. Islam adalah agama fitrah, yang sesuai dengan kebutuhan manusia, diantaranya kebutuhan fisik. Dan, salah satu cara memenuhi kebutuhan fisik itu ialah dengan bekerja.
Motivasi kerja dalam Islam itu adalah untuk mencari nafkah yang merupakan bagian dari ibadah. Motivasi kerja dalam Islam bukanlah untuk mengejar hidup hedonis, bukan juga untuk status, apa lagi untuk mengejar kekayaan dengan segala cara. Tapi untuk beribadah. Bekerja untuk mencari nafkah adalah hal yang istimewa dalam pandangan Islam.

Motivasi Kerja Dalam Islam
Cobalah simak beberapa kutipan hadist dibawah ini. Anda bisa melihat bagaimana istimewanya bekerja mencari nafkah menurut sabda Nabi saw. Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil (professional atau ahli). Barangsiapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza wajalla. (HR. Ahmad) Luar biasa, dikatakan dalam hadits diatas bahwa mencari nafkah adalah seperti mujahid, artinya nilainya sangat besar.

Allah suka kepada hambanya yang mau berusah payah mencari nafkah.

Saya kira, ini lebih dari cukup sebagai motivasi kerja kita sebagai muslim. Bahkan, kita pun berpeluang mendapatkan ampunan dari Allah. Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan dari upaya ketrampilan kedua tangannya pada siang hari maka pada malam itu ia diampuni oleh Allah. (HR. Ahmad) Hukumnya Wajib

Mencari rezeki yang halal dalam agama Islam hukumnya wajib.

Ini menandakan bagaimana penting mencari rezeki yang halal. Dengan demikian, motivasi kerja dalam Islam, bukan hanya memenuhi nafkah semata tetapi sebagai kewajiban beribadah kepada Allah setelah ibadah fardlu lainnya.
Mencari rezeki yang halal adalah wajib sesudah menunaikan yang fardhu (seperti shalat, puasa, dll). (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)
Perlu diperhatikan dalam hadist di atas, ada kata sesudah. Artinya hukumnya wajib sesudah ibadah lain yang fardhu. Jangan sampai karena merasa sudah bekerja, tidak perlu ibadah-ibadah lainnya. Meski kita bekerja, kita tetap wajib melakukan ibadah fardhu seperti shalat, puasa, ibadah haji, zakat, jihad, dan dakwah. Jangan sampai kita terlena dengan bekerja tetapi lupa dengan kewajiban lainnya. Jika Motivasi Kerja Sebagai Ibadah
Jika motivasi kerja kita sebagai ibadah, tentu yang namanya ibadah ada aturannya. Memang berbeda dengan ibadah ritual atau ibadah mahdhah, sebab bekerja sebagai ibadah ghair mahdhah. Artinya, dalam kaidah ushul Fiqh, kita memiliki kebebasan yang luas untuk bekerja selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Langkah pertama agar bekerja menjadi sebuah ibadah ialah harus diawali dengan niat, sebab amal akan tergantung niat. Niatkanlah bahwa bekerja sebagai salah satu ibadah kepada Allah.

Langkah kedua ialah pastikan dalam bekerja tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Untuk itu kita perlu memperhatikan: Apa yang dikerjakan? Untuk apa kita bekerja? Apakah kita bekerja untuk sesuatu yang dihalalkan oleh agama? Pastikan kita bekerja untuk sesuatu yang tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam. Cara melakukan pekerjaan kita. Apakah cara-cara Anda bekerja sesuai dengan ajaran Islam? Bagaimana dengan pakaian, batasan antara laki-laki dan perempuan, dan sebagainya.

Etos Kerja Seorang Muslim

Jika tujuan bekerja begitu agung. Untuk mendapatkan ridha Allah Subhaanahu wa ta’ala, maka etos kerja seorang Muslim haruslah tinggi. Sebab motivasi kerja seorang Muslim bukan hanya harta dan jabatan, tetapi pahala dari Allah. Tidak sepantasnya seorang Muslim memiliki etos kerja yang lemah. Coba perhatikan diatas, ada kata-kata “susah payah” dan “kelelahan” yang menandakan etos kerja yang tinggi, suka bekerja keras, dan jauh dari sifat malas.
Jadi, tidak ada kata malas atau tidak serius bagi seorang Muslim dalam bekerja. Motivasi kerja dalam Islam bukan semata mencari uang semata, tetapi serupa dengan seorang mujahid, diampuni dosanya oleh Allah SWT, dan tentu saja ini adalah sebuah kewajiban seorang hamba kepada Allah SWT.

Profesional dan Ahli

Dalam hadits diatas juga disebutkan kata profesional dan ahli. Jika motivasi kerja Anda sebagai ibadah, maka Anda akan melakukannya dengan sebaik mungkin. Anda akan terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan Anda dalam bekerja. Anda terus belajar dan berlatih agar semakin hari menjadi semakin ahli dalam bekerja. Kemauan Anda untuk belajar dan meningkatkan kemampuan bisa dijadikan ukuran apakah motivasi kerja Anda untuk ibadah atau bukan.

Adil Dalam Bekerja

Salah satu bentuk profesional itu adalah ‘adil, yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Jika waktunya bekerja, Anda bekerja. Jika waktunya istirahat atau shalat, Anda bisa shalat dan istirahat. Jika tidak, maka bisa termasuk melakukan hal yang dzalim, tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya. ‘Adil juga berarti, Anda bekerja sesuatu tugas, wewenang, dan tanggung jawab yang Anda miliki. Semoga motivasi kerja kita semua sebagai ibadah dan dibuktikan dengan melakukan pekerjaan sebaik mungkin. motivasi islam
: Nafkah kepada keluarga lebih afdhol dari sedekah tathowwu’ (sunnah)

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِى أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ

“Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar (dari amalan kebaikan yang disebutkan tadi, pen)” (HR. Muslim no. 995).

Imam Nawawi membuat judul untuk hadits ini, “Keutamaan nafkah bagi keluarga dan hamba sahaya, serta dosa bagi orang yang melalaikan dan menahan nafkahnya untuk mereka”. Dalam Syarh Muslim (7: 82), Imam Nawawi mengatakan, “Nafkah kepada keluarga itu lebih afdhol dari sedekah yang hukumnya sunnah”.

Kedua: Jika mencari nafkah dengan ikhlas, akan menuai pahala besar

Dari Sa’ad bin Abi Waqqosh, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِى بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهَا ، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِى فِى امْرَأَتِكَ

“Sungguh tidaklah engkau menginfakkan nafkah (harta) dengan tujuan mengharapkan (melihat) wajah Allah (pada hari kiamat nanti) kecuali kamu akan mendapatkan ganjaran pahala (yang besar), sampai pun makanan yang kamu berikan kepada istrimu.” (HR. Bukhari no. 56). Imam Al Bukhari memasukkan hadits ini pada masalah ‘setiap amalan tergantung pada niat’. Ini menunjukkan bahwa mencari nafkah bisa menuai pahala jika diniatkan dengan ikhlas untuk meraih wajah Allah. Namun jika itu hanya aktivitas harian semata, atau yakin itu hanya sekedar kewajiban suami, belum tentu berbuah pahala.

Ketiga: Memberi nafkah termasuk sedekah

Dari Al Miqdam bin Ma’dikarib, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا أَطْعَمْتَ نَفْسَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ وَمَا أَطْعَمْتَ وَلَدَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ وَمَا أَطْعَمْتَ زَوْجَتَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ وَمَا أَطْعَمْتَ خَادِمَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Harta yang dikeluarkan sebagai makanan untukmu dinilai sebagai sedekah untukmu. Begitu pula makanan yang engkau beri pada anakmu, itu pun dinilai sedekah. Begitu juga makanan yang engkau beri pada istrimu, itu pun bernilai sedekah untukmu. Juga makanan yang engkau beri pada pembantumu, itu juga termasuk sedekah” (HR. Ahmad 4: 131. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Keempat: Harta yang dinafkahi semakin barokah dan akan diberi ganti

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفً

“Tidaklah para hamba berpagi hari di dalamnya melainkan ada dua malaikat yang turun, salah satunya berkata, “Ya Allah, berilah ganti kepada orang yang senang berinfak.” Yang lain mengatakan, “Ya Allah, berilah kebangkrutan kepada orang yang pelit.” (HR. Bukhari no. 1442 dan Muslim no. 1010). Seseorang yang memberi nafkah untuk keluarganya termasuk berinfak sehingga termasuk dalam keutamaan hadits ini.
Sumber : Slamet Rahadi >>> FB.COM/menuju.tobat/posts/10202540477735608

Please follow and like us:
Posted on

Indikator Takwa Setiap Habis Ramadhan

Puji dan syukur marilah senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang selalu melimpahkan ni`mat dan karuniaNya bagi kita dalam setiap saat, tidak ada satu detikpun hidup yang kita jalani kecuali pada saat itu ada ni`mat Allah yang menyertai kita, udara yang sedang kita hirup, darah mengalir di tubuh kita, denyut jantung yang tak pernah berhenti, serta ni`mat-ni`mat yang lainnya yang tak akan pernah bisa kita hitung jumlahnya. Itu artinya bahwa Allah SWT tidak pernah melupakan hambaNya meskipun sesaatpun, akan tetapi hambaNyalah yang selalu melupakan Dia, bahkan sebagian dari hamba Allah itu justru menggunakan ni`mat yang diberikanNya untuk berbuat maksiat kepadaNya, untuk itu mari kita sadari dan kita renungkan, semoga kita tidak termasuk kedalam golongan tersebut, akan tetapi kita menjadi hambaNya yang bersyukur agar ni`mat Allah selalu bertambah bagi kita sesuai dengan firman Allah SWT :

(( لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ )) (سورة إبراهيم: 7)

“Jika kalian bersyukur terhadap nikmatku niscaya akan aku tambah ni`mat tersebut, tetapi jika kalian kufur sungguh azabKu sangatlah pedih”  (Q.S. Ibrahim(14) ayat 7  )

Shalawat dan salam juga haruslah selalu kita tujukan untuk Rasulullah SAW yang telah berjuang dan mengorbankan segala-galanya untuk kemaslahatan dan kebahagiaan ummatnya, baik di dunia maupun di akhirat. Semoga saja kecintaan kita kepada Rasulullah SAW, selalu bertambah, tak pernah pudar, dan kita  selalu membasahi lidah kita untuk bershalawat dan memberi salam kepada Rasulullah SAW, semoga kita menjadi orang yang berhak mendapatkan syafa`atnya.

Pada hari yang mulia ini umat Islam di barbagai belahan bumi beramai-ramai melantunkan kata-kata Takbir, Tahmid dan Tahlil sebagai wujud rasa bahagia dalam menyambut hari kemenangan. Mereka semua berbahagia karena sebulan penuh telah berhasil mengendalikan nafsunya serta mengisi detik-detik waktunya dengan berbagai macam bentuk kebaikan, sebagai usaha mendekatkan diri mereka kepada Allah SWT. Berpuasa di siang hari, shalat di malam hari, memperbanyak tilawah Al-Quran, berdo`a dan beristighfar, berinfaq dan bersedekah, menjalin hubungan silaturrahim, dan lain sebagainya,  Semua kegiatan tersebut dilaksanakan atas dasar iman dan penuh harapan  sesuai dengan sabda Nabi SAW:

(مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ) (رواه البخاري ومسلم)

“Siapa yang melaksanakan puasa Ramadhan dengan penuh iman dan mengharapkan pahala dan ampunan maka diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)

Perbuatan dan amal  baik yang sudah menjadi kebiasaan umat Islam untuk dilakukan selama Ramadhan diharapkan mampu membentuk karakter  dan tabi`at mereka untuk berbuat hal yang sama setelah Ramadhan berlalu, janganlah pernah menjadikan Ramadhan sebagai topeng dalam kehidupan kita, tapi jadikanlah sebagai wajah asli kita dalam menjalani sebelas bulan kehidupan berikutnya.

Apabila selama Ramadhan kita selalu menyempatkan diri untuk membaca Al-Quran, mendatangi masjid untuk shalat berjama`ah, bangun di sepertiga malam untuk sahur, tahajjud, dan iktikaf, berempati terhadap fakir miskin, meneteskan air mata saat bermunajat dan bersimpuh di hadapan Allah SWT, serta berbagai kebaikan lainnya, maka janganlah sampai kebaikan-kebaikan tersebut menjadi wajah indah kita yang bersifat sesaat, akan tetapi jadikanlah ia sebagai perhiasan jiwa yang tetap bertahan dan terlaksana setelah Ramadhan meninggalkan kita. Ketahuilah bahwa Tuhannya bulan Ramadhan adalah Tuhannya bulan Syawwal juga, dan Tuhan sebelas bulan berikutnya.

 

Umar Bin Abdul Aziz berkata:

Hari raya itu bukanlah milik orang yang memakai pakaian baru ,Akan tetapi hari raya adalah milik orang yang  takut dengan hari pembalasan . Tidaklah hari raya itu buat yang memiliki kendaraan mewah.Akan tetapi hari raya itu buat orang yang dosanya terampuni

Inilah hakikat Idul Fitri yang sesungguhnya, kembali kepada kesucian, meraih kemenangan dengan prestasi taqwa serta mempertahankan kesucian dan kemenangan tersebut di masa yang akan datang.

الله ُاَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah SWT. 

Hari ini kita merayakan hari kemenangan itu, rahim Ramadhan telah melahirkan sosok-sosok dan pribadi muslim yang menang dan sukses, kemenangan dengan prestasi taqwa.  sesuai dengan yang dikehendaki Allah  di dalam kitab suci Al Qur”an  Surat  Al Baqarah (2) : 1-5 dan Ali Imron (3) 3:133-134 sebagai berikut :

Dari ayat di atas di atas, dapat kita lihat bahwa orang-orang bertaqwa itu memiliki ciri-ciri :

Pertama,  Kitab Allah (Al-Qur’an) menjadi pentunjuk hidupnya. Ini terwujud dengan selalu membaca, mempelajari dengan sungguh-sungguh untuk memahaminya, melaksanakan dengan sepenuh hati, serta berbagi kepahaman dengan sesamanya khususnya kepada gerasi penerusnya.

 

Kedua, Menegakkan Shalat baik dalam arti sembahyang  (lima waktu), maupun dalam arti mengingat segala aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.  Dalam sembahyang ini kita telah berlatih di bulan Ramadhan ini untuk selalu melaksanakannya di masjid secara berjama’ah.

 

Ketiga : Memisahkan harta yang dititipkan Allah untuk saudaranya yang kekurangan (tidak mampu).  Dia infax (pisah), disampaikan (shodaqoh), sehingga dia mencapai Zakah  (suci /terbebas) dari pelanggaran aturan Allah. Maka langkah ini  akan menghapus sekat-sekat pemisah antara yang kaya dengan yang miskin,  sebab semua manusia sama di hadapan Allah SWT.

 

Keempat, Mengimani  apa-apa yang diturunkan kepadanya dan sebelumnya, baik yang qauliyan maupun kauniyah. Semua yang diturunkan Allah itu wajib disyukuri, maka disyukurinya.

Kelima, Segera mohon ampun dan menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi.  Ini wujud kesadaran akan segala keterbatasannya di hadapan ilmu dan kekuasaan Allah. Kesadaran akan luasnya ampunanNya, serta luasnya surga Allah.  “Sungguh telah menang dan beruntung orang yang mensucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya” (Q.S. Asy-Syams(91) : 9-10)

Keenam, Menahan/ Mengendalikan nafsu amarahnya. Dalam sebuah ungkapannya Rasulullah SAW bersabda: “ orang yang kuat bukanlah orang yang selalu menang dalam berkelahi, akan tetapi orang kuat adalah orang yang dapat menahan diri saat dia marah” (H.R Imam Al-Bukhari).

Ketujuh , Memaafkan Kesalahan manusia (orang lain).

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah SWT. 

Dengan ke tujuh ciri-ciri yang mensifati dirinya, maka orang-orang yang bertaqwa akan dapat menjadi orang-orang yang disukai Allah, yaitu orang-orang yang berbuat kebaikan. Apabila sifat taqwa itu sudah tumbuh subur dalam jiwa seseorang maka ia akan selalu rela dan senang hati untuk menerima dan melaksanakan aturan Allah, apapun konsekwensi yang akan dihadapinya, meskipun akan mengorbankan sesuatu yang paling dia cintai, atas nama cinta kepada Allah dan Rosulnya. Maka saat itu ia sedang merayakan puncak kemenangan spritualnya.

Semangat ketaqwaan seperti itulah yang diciptakan oleh ibadah puasa, karena dengan berpuasa seseorang dituntut untuk selalu dalam suasana jiwa yang dekat kepada Allah SWT, sebagaimana ia dituntut untuk menghargai waktu agar bisa meraih sekecil apapun peluang ibadah, serta menghindari sekecil apapun peluang dosa yang akan bisa mengurangi atau merusak nilai-nilai puasa.

Sumber : Ringkasan khutbah  Idul Fitri 1435 H oleh Drs. H. Bambang Samodro Wicaksono MM

Founder PPAQM dan TAM  Kota  Kediri dengan judul

RAHIM RAMADHAN

SEHARUSNYA MELAHIRKAN MANUSIA YANG BERKUALITAS

SEBAGAI WUJUD KEMENANGAN MELALUI KETAQWAAN


, semoga bermanfaat.

Please follow and like us:
Posted on

KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN

Bulan Suci Ramadhan segera tiba , Bulan yang ditunggu umat Islam. Ramadhan yang secara etimologi berarti panas yang menyengat ini merupakan bulan kesembilan dalam sistem kalender Islam Hijriyah.

Ramadhan-Big-Sale

Salah satu alasan kenapa bulan puasa selalu ditunggu-tunggu adalah karena di bulan ini setiap perbuatan baik selalu dibalas dengan pahala yang berlipat ganda. Wajar jika banyak umat Muslim berbondong-bondong ke masjid untuk berburu pahala sebanyak-banyaknya. Ada yang membaca Al Quran, bersedekah, menjalankan sholat sunnah, dan melakukan itikaf menunggu datangnya Lailatul Qadar

1. Artinya : Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra: Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. pernah bersabda : Ketika datang bulan Ramadhan: Sungguh telah datang kepadamu bulan yang penuh berkat, diwajibkan atas kamu untuk puasa, dalam bulan ini pintu Jannah dibuka, pintu Neraka ditutup, Setan- Setan dibelenggu. Dalam bulan ini ada suatu malam yang nilanya sama dengan seribu bulan, maka barangsiapa diharamkan kebaikannya ( tidak beramal baik didalamnya), sungguh telah diharamkan (tidak mendapat kebaikan di bulan lain seperti di bulan ini). ( HR. Ahmad, Nasai dan Baihaqy. Hadits Shahih Ligwahairihi).

 

2. “Diriwayatkan dari Urfujah, ia berkata : Aku berada di tempat ‘Uqbah bin Furqad, maka masuklah ke tempat kami seorang dari Sahabat Nabi saw. ketika Utbah

melihatnya ia merasa takut padanya, maka ia diam. Ia berkata: maka ia menerangkan tentang puasa Ramadhan ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda tentang bulan Ramadhan: Di bulan Ramadhan ditutup seluruh pintu Neraka, dibuka seluruh pintu Jannah, dan dalam bulan ini Setan dibelenggu. Selanjutnya ia berkata : Dan dalam bulan ini ada malaikat yang selalu menyeru : Wahai orang yang selalu mencari/ beramal kebaikan bergembiralah anda, dan wahai orang-orang yang mencari/berbuat kejelekan berhentilah ( dari perbuatan jahat) . Seruan ini terus didengungkan sampai akhir bulan Ramadhan.” (Riwayat Ahmad dan Nasai )

 

3. ” Diriwayatkan dari Abi Hurairah ra. Sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda : Shalat Lima waktu, Shalat Jum’at sampai Shalat Jum’at berikutnya, puasa Ramadhan sampai puasa Ramadhan berikutnya, adalah menutup dosa-dosa (kecil) yang diperbuat diantara keduanya, bila dosa-dosa besar dijauhi.” ( H.R.Muslim)

 

4. “Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru, bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda: puasa dan Qur’an itu memintakan syafa’at seseorang hamba di hari

Kiamat nanti. puasa berkata : Wahai Rabbku,aku telah mencegah dia memakan makanan dan menyalurkan syahwatnya di siang hari, maka berilah aku hak untuk

memintakan syafa’at baginya. Dan berkata pula AL-Qur’an : Wahai Rabbku aku telah mencegah dia tidur di malam hari ( karena membacaku ), maka berilah aku

hak untuk memintakan syafaat baginya. Maka keduanya diberi hak untuk memmintakan syafaat.” ( H.R. Ahmad, Hadits Hasan).

 

5. “Diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad : Sesungguhnya Nabi saw telah bersabda : bahwa sesungguhnya bagi Jannah itu ada sebuah pintu yang disebut ” Rayyaan”.

Pada hari kiamat dikatakan : Dimana orang yang puasa? ( untuk masuk Jannah melalui pintu itu), jika yang terakhir diantara mereka sudah memasuki pintu itu,

maka ditutuplah pintu itu.” (HR. Bukhary Muslim).

 

6. Rasulullah saw. bersabda : Barangsiapa puasa Ramadhan karena beriman dan ikhlas, maka diampuni dosanya yang telah lalu dan yang sekarang ( HR.Bukhary

Muslim).

KESIMPULAN : Kesemua Hadits di atas memberi pelajaran kepada kita, tentang keutamaan bulan Ramadhan dan keutamaan beramal didalamnya, diantaranya :

1. Bulan Ramadhan adalah:

  • Bulan yang penuh Barakah.
  • Pada bulan ini pintu Jannah dibuka dan pintu neraka ditutup.
  • Pada bulan ini Setan-Setan dibelenggu.
  • Dalam bulan ini ada satu malam yang keutamaan beramal didalamnya lebih baik daripada beramal seribu bulan di bulan lain, yakni malam LAILATUL QADR.
  • Pada bulan ini setiap hari ada malaikat yang menyeru menasehati siapa yang berbuat baik agar bergembira dan yang berbuat ma’shiyat agar menahan diri. (dalil 1 & 2).

 

2. Keutamaan beramal di bulan Ramadhan antara lain :

  • Amal itu dapat menutup dosa-dosa kecil antara setelah Ramadhan yang lewat sampai dengan Ramadhan berikutnya.
  • Menjadikan bulan Ramadhan memintakan syafaa’t.
  • Khusus bagi yang puasa disediakan pintu khusus yang bernama Rayyaan untuk memasuki Jannah. ( dalil 3, 4, 5 dan 6).

Semoga catatan kecil ini bermanfaat bagi kita dalam menyambut Ramadhan. Ada tetesan-tetesan ilmu dan hikmah di halaman unduh gratis. Silakan KliK di sini.

Please follow and like us:
Posted on

Domain dan Hosting Murah Hemat

Kali ini kita akan berbicara mengenai bagaimana cara memilih domain name dan web hosting yang tepat.

domain murah

Domain name atau nama domain adalah sebuah nama (.com, .net, .org atau lainnya) yang bisa kita miliki sebagai pengenal dari website kita. Untuk itu, Anda harus membeli nama domain tersebut dengan cara memesan melalui name registrar yang ada di internet (lebih lanjut mengenai ini nantinya).
Web hosting adalah sebuah web server yang akan Anda gunakan agar website Anda bisa online. Ada banyak web hosting gratis di internet tetapi penuh dengan iklan. Untuk bisnis internet, Anda wajib untuk investasi ini. Jangan ambil paket yang gratis karena gratis bisa mengakibatkan website Anda sering down dan itu buruk bagi bisnis online Anda.

Web Hosting
Sering kali saya menemui orang yang ingin memulai bisnis online mengatakan,”Banyak sekali free hosting di sediakan dimanapun, kenapa kita harus investasi? Gratisan kan banyak?”
Yes, betul sekali.. web hosting gratisan itu banyak. Tetapi apakah Anda tahu fakta di balik itu?
 Gratis karena mereka bisa memasang iklan di website Anda.
 Gratis karena kontrol website ada di tangan mereka, jikalau website Anda popular dan banyak traffic kapan saja Anda bisa kehilangan kontrol atas website tersebut dan bisnis Anda langsung mati dalam 1 hari?
 Mereka bisa tutup kapan saja dan Anda tidak bisa claim website Anda?
Anda ingin membangun bisnis di balik fakta seperti hal tersebut? Bertaruh kelangsungan bisnis Anda karena tidak ingin investasi di sebuah web hosting yang reliable, memiliki server yang 99% uptime (hampir tidak pernah mati), kontrol website di tangan Anda?
Kalau saya, pastinya sudah memilih investasi di web hosting sendiri.
Ingin cari web hosting dan domain murah dan hemat segera klik  >>>di sini pilih Paketnya

Hosting Unlimited Indonesia

Please follow and like us: