Posted on

Indikator Takwa Setiap Habis Ramadhan

Puji dan syukur marilah senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang selalu melimpahkan ni`mat dan karuniaNya bagi kita dalam setiap saat, tidak ada satu detikpun hidup yang kita jalani kecuali pada saat itu ada ni`mat Allah yang menyertai kita, udara yang sedang kita hirup, darah mengalir di tubuh kita, denyut jantung yang tak pernah berhenti, serta ni`mat-ni`mat yang lainnya yang tak akan pernah bisa kita hitung jumlahnya. Itu artinya bahwa Allah SWT tidak pernah melupakan hambaNya meskipun sesaatpun, akan tetapi hambaNyalah yang selalu melupakan Dia, bahkan sebagian dari hamba Allah itu justru menggunakan ni`mat yang diberikanNya untuk berbuat maksiat kepadaNya, untuk itu mari kita sadari dan kita renungkan, semoga kita tidak termasuk kedalam golongan tersebut, akan tetapi kita menjadi hambaNya yang bersyukur agar ni`mat Allah selalu bertambah bagi kita sesuai dengan firman Allah SWT :

(( لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ )) (سورة إبراهيم: 7)

“Jika kalian bersyukur terhadap nikmatku niscaya akan aku tambah ni`mat tersebut, tetapi jika kalian kufur sungguh azabKu sangatlah pedih”  (Q.S. Ibrahim(14) ayat 7  )

Shalawat dan salam juga haruslah selalu kita tujukan untuk Rasulullah SAW yang telah berjuang dan mengorbankan segala-galanya untuk kemaslahatan dan kebahagiaan ummatnya, baik di dunia maupun di akhirat. Semoga saja kecintaan kita kepada Rasulullah SAW, selalu bertambah, tak pernah pudar, dan kita  selalu membasahi lidah kita untuk bershalawat dan memberi salam kepada Rasulullah SAW, semoga kita menjadi orang yang berhak mendapatkan syafa`atnya.

Pada hari yang mulia ini umat Islam di barbagai belahan bumi beramai-ramai melantunkan kata-kata Takbir, Tahmid dan Tahlil sebagai wujud rasa bahagia dalam menyambut hari kemenangan. Mereka semua berbahagia karena sebulan penuh telah berhasil mengendalikan nafsunya serta mengisi detik-detik waktunya dengan berbagai macam bentuk kebaikan, sebagai usaha mendekatkan diri mereka kepada Allah SWT. Berpuasa di siang hari, shalat di malam hari, memperbanyak tilawah Al-Quran, berdo`a dan beristighfar, berinfaq dan bersedekah, menjalin hubungan silaturrahim, dan lain sebagainya,  Semua kegiatan tersebut dilaksanakan atas dasar iman dan penuh harapan  sesuai dengan sabda Nabi SAW:

(مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ) (رواه البخاري ومسلم)

“Siapa yang melaksanakan puasa Ramadhan dengan penuh iman dan mengharapkan pahala dan ampunan maka diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)

Perbuatan dan amal  baik yang sudah menjadi kebiasaan umat Islam untuk dilakukan selama Ramadhan diharapkan mampu membentuk karakter  dan tabi`at mereka untuk berbuat hal yang sama setelah Ramadhan berlalu, janganlah pernah menjadikan Ramadhan sebagai topeng dalam kehidupan kita, tapi jadikanlah sebagai wajah asli kita dalam menjalani sebelas bulan kehidupan berikutnya.

Apabila selama Ramadhan kita selalu menyempatkan diri untuk membaca Al-Quran, mendatangi masjid untuk shalat berjama`ah, bangun di sepertiga malam untuk sahur, tahajjud, dan iktikaf, berempati terhadap fakir miskin, meneteskan air mata saat bermunajat dan bersimpuh di hadapan Allah SWT, serta berbagai kebaikan lainnya, maka janganlah sampai kebaikan-kebaikan tersebut menjadi wajah indah kita yang bersifat sesaat, akan tetapi jadikanlah ia sebagai perhiasan jiwa yang tetap bertahan dan terlaksana setelah Ramadhan meninggalkan kita. Ketahuilah bahwa Tuhannya bulan Ramadhan adalah Tuhannya bulan Syawwal juga, dan Tuhan sebelas bulan berikutnya.

 

Umar Bin Abdul Aziz berkata:

Hari raya itu bukanlah milik orang yang memakai pakaian baru ,Akan tetapi hari raya adalah milik orang yang  takut dengan hari pembalasan . Tidaklah hari raya itu buat yang memiliki kendaraan mewah.Akan tetapi hari raya itu buat orang yang dosanya terampuni

Inilah hakikat Idul Fitri yang sesungguhnya, kembali kepada kesucian, meraih kemenangan dengan prestasi taqwa serta mempertahankan kesucian dan kemenangan tersebut di masa yang akan datang.

الله ُاَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah SWT. 

Hari ini kita merayakan hari kemenangan itu, rahim Ramadhan telah melahirkan sosok-sosok dan pribadi muslim yang menang dan sukses, kemenangan dengan prestasi taqwa.  sesuai dengan yang dikehendaki Allah  di dalam kitab suci Al Qur”an  Surat  Al Baqarah (2) : 1-5 dan Ali Imron (3) 3:133-134 sebagai berikut :

Dari ayat di atas di atas, dapat kita lihat bahwa orang-orang bertaqwa itu memiliki ciri-ciri :

Pertama,  Kitab Allah (Al-Qur’an) menjadi pentunjuk hidupnya. Ini terwujud dengan selalu membaca, mempelajari dengan sungguh-sungguh untuk memahaminya, melaksanakan dengan sepenuh hati, serta berbagi kepahaman dengan sesamanya khususnya kepada gerasi penerusnya.

 

Kedua, Menegakkan Shalat baik dalam arti sembahyang  (lima waktu), maupun dalam arti mengingat segala aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.  Dalam sembahyang ini kita telah berlatih di bulan Ramadhan ini untuk selalu melaksanakannya di masjid secara berjama’ah.

 

Ketiga : Memisahkan harta yang dititipkan Allah untuk saudaranya yang kekurangan (tidak mampu).  Dia infax (pisah), disampaikan (shodaqoh), sehingga dia mencapai Zakah  (suci /terbebas) dari pelanggaran aturan Allah. Maka langkah ini  akan menghapus sekat-sekat pemisah antara yang kaya dengan yang miskin,  sebab semua manusia sama di hadapan Allah SWT.

 

Keempat, Mengimani  apa-apa yang diturunkan kepadanya dan sebelumnya, baik yang qauliyan maupun kauniyah. Semua yang diturunkan Allah itu wajib disyukuri, maka disyukurinya.

Kelima, Segera mohon ampun dan menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi.  Ini wujud kesadaran akan segala keterbatasannya di hadapan ilmu dan kekuasaan Allah. Kesadaran akan luasnya ampunanNya, serta luasnya surga Allah.  “Sungguh telah menang dan beruntung orang yang mensucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya” (Q.S. Asy-Syams(91) : 9-10)

Keenam, Menahan/ Mengendalikan nafsu amarahnya. Dalam sebuah ungkapannya Rasulullah SAW bersabda: “ orang yang kuat bukanlah orang yang selalu menang dalam berkelahi, akan tetapi orang kuat adalah orang yang dapat menahan diri saat dia marah” (H.R Imam Al-Bukhari).

Ketujuh , Memaafkan Kesalahan manusia (orang lain).

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah SWT. 

Dengan ke tujuh ciri-ciri yang mensifati dirinya, maka orang-orang yang bertaqwa akan dapat menjadi orang-orang yang disukai Allah, yaitu orang-orang yang berbuat kebaikan. Apabila sifat taqwa itu sudah tumbuh subur dalam jiwa seseorang maka ia akan selalu rela dan senang hati untuk menerima dan melaksanakan aturan Allah, apapun konsekwensi yang akan dihadapinya, meskipun akan mengorbankan sesuatu yang paling dia cintai, atas nama cinta kepada Allah dan Rosulnya. Maka saat itu ia sedang merayakan puncak kemenangan spritualnya.

Semangat ketaqwaan seperti itulah yang diciptakan oleh ibadah puasa, karena dengan berpuasa seseorang dituntut untuk selalu dalam suasana jiwa yang dekat kepada Allah SWT, sebagaimana ia dituntut untuk menghargai waktu agar bisa meraih sekecil apapun peluang ibadah, serta menghindari sekecil apapun peluang dosa yang akan bisa mengurangi atau merusak nilai-nilai puasa.

Sumber : Ringkasan khutbah  Idul Fitri 1435 H oleh Drs. H. Bambang Samodro Wicaksono MM

Founder PPAQM dan TAM  Kota  Kediri dengan judul

RAHIM RAMADHAN

SEHARUSNYA MELAHIRKAN MANUSIA YANG BERKUALITAS

SEBAGAI WUJUD KEMENANGAN MELALUI KETAQWAAN


, semoga bermanfaat.

Please follow and like us:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *